Wordcamp 2010 : The Journey (Chapter-3)

“Welcome to the Club”

8.20 AM

Saat tengah duduk di lantai ruang untuk sarapan,  Saad menemukan seorang anak yang  tampak terdampar di kampusnya sendiri. Ia duduk persis disebelahnya. Here’ s our first impression : Pendiam dan penyendiri.  “Saya Saad, nama Anda siapa?” aku tidak ingat persis bagaimana ia menyapa orang yang nantinya bakal menjadi sahabat baru kami di Wordcamp 2010 ini. Tapi begitulah intinya kira-kira. Ia menjawab “Saya Amin, Ahmad Aminudin dari Gunadarma”. Aku pun ikut memperkenalkan diri. Tidak sulit mengingat namanya, tiap kali lupa dengan namanya aku selalu ingat bahwa nama panggilannya identik dengan penghujung sebuah doa yang berarti “Kabulkanlah”. 😀 Benar kata Saad awalnya kami mengira Amin adalah orang yang pemalu dan pendiam. Tapi belakangan kami tahu bahwa ia adalah seorang menganut paham kenarsisan yang membuat kami geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah lakunya. “Iya saya  ada ujian nih, bentar lagi tapi mau ikutan Wordcamp, abis gratis sih, diundang.” Dari kata “diundang” pun aku langsung tahu bahwa ia bukan orang biasa. Pasti sejenis maniak blog yang tidak jauh dari orang-orang yang berdiri disekitar kami. Dan percakapan demi percakapan bersama teman baru itu pun mengalir.  “Udah belajar Min?” tiba-tiba Saad menyapa  teman baru kami ini. “Belum, materinya aj ga tau” jawabnya tenang. Kacau pikirku. Ujian tapi materi yang akan diujikan saja ia tidak tahu. Hehe. Dari sini kami sedikit demi sedikit mulai menguak tingkah laku gilanya. :D.

Continue reading

Advertisements

Wordcamp 2010 : The Journey (Chapter-2)

“Come in, we’ll get you breakfast and coffee”

07.30 AM

Pandu sudah naik terlebih dahulu ke ruang auditorium sebelum acara dimulai. Wajar sebab ia ditugaskan oleh kantornya untuk mejadi salah satu panitia event Wordcamp 2010 yang bekerja di bagian public relation.  Aku duduk di bagian pintu masuk gedung itu untuk menunggu kedatangan Saad yang terpisahkan saat kami turun dari stasiun Pondok Cina. Akhirnya ia datang beberapa menit kemudian. Aku masih menahan tawa. Kami berangkat bertiga, berdiri sejajar, mengobrol, dan sampai ke tempat tujuan dengan lokasi yang berbeda. Hehe.Lucu sekali.  Tidak lama setelah itu kami mencari lokasi tempat acara itu diselenggarakan. Cukup sulit menemukannya, tidak ada spanduk atau banner yang terpangpang di lantai dasar gedung itu. Sebuah masukan untuk Wordcamp 2011 :D. Untunglah setelah memasuki lift kami bertemu dengan peserta wordcamp yang lain. Setelah sampai di lantai 6, kami melakukan registrasi awal. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya aku tercatat sebagai peserta yang belum membayar. I’ve prepared for this. Ayah selalu mengajarkanku untuk mempersiapkan segalanya sebelum pergi ke suatu acara. Termasuk membawa print bukti pembayaran dan notification email dari mereka bahwa aku sudah membayar.  Aku mendaftar dengan rekening ibuku dan karena atas nama rekening dan pendaftar berbeda nama  maka aku tercatat sebagai peserta yang belum melakukan pembayaran. Mereka memintaku untuk menunjukkan bukti pembayaran lewat ATM dan aku dipersilakan masuk. Untuk bagian yang satu ini aku pantas mengacungkan jempol  kepada para panitia registrasi karena kinerja panitia ini cepat dan ramah. Good work committee :D.

Continue reading

Wordcamp 2010 : The Journey (Chapter-1)

Lost into the next station

January 30th 2010

8.10 PM

Tempat itu lebih mirip ruang penyekapan narapidana yang akan dipindahkan dari Buchenwald ke  Weimar dibanding layaknya sebuah gerbong kereta KRL umum. Tinggal ditambahkan  gas beracun dan tempat itu akan mirip seperti peristiwa Holocaust di jaman Hitler. Sesak, penuh, dan gelap. Aku mencoba berdiri mencari celah-celah untuk memastikan bahwa supply oksigen yang kuterima cukup. Sesekali sinar masuk dari balik jeruji ventilasi kereta dan aku bisa merasakan bahwa sama halnya denganku, orang-orang dikereta itu ingin secepatnya menemui stasiun tujuan mereka dan turun.  Ya, aku bersama dengan kedua sahabatku menaiki kereta ekonomi dari Stasiun Pondok Cina dan terjebak dalam kereta tanpa lampu! Miris sekali rasanya berada di tempat itu mengingat negara ini adalah  negara yang memiliki jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa dengan pendapatan perkapita hingga akhir tahun 2009 mencapai 2.500 dan 2.600 dollar AS. Sedikit kalkulasi dan perhitungan abstrak, dengan asumsi bahwa kurs dolar mencapai 10.000 rupiah saja 2.600 dolar berarti bahwa pendapatan penduduk Indonesia mencapao 26 juta pertahun. Jika dihitung dengan pensil dan kertas setiap bulan penghasilan rata-rata penduduk Indonesia sekitar 2,2 juta. Rendahnya kemampuan ekonomi sebagian besar warga Indonesia menandakan bahwa banyak sekali rakyat negri ini yang akan menggunakan jasa kereta api ekonomi dan kondisi gerbong kereta tanpa lampu seperti ini sungguh memprihatinkan. Tapi ya sudahlah, hanya dengan mengingat semua kisah yang terlewati sebelum menaiki kereta itu saja aku sudah bisa tersenyum-senyum hingga perjalanku mencapai stasiun Bogor. Unforgettable moments I must say..

Continue reading

A quick Note before reading “Wordcamp 2010 : The Journey”

January, 30th 2010 is one of the greatest day in this new year.  That’s the Wordcamp day! 😀

Hari itu tepatnya adalah hari dimana Wordcamp sebagai ajang pertemuan penggemar dan pengembang WordPress (sebuah open-source blog engine) diselenggarakan di Indonesia untuk  kedua kalinya. :D. Banyak sekali pengalaman dan kisah yang ingin saya bagi dalam blog ini dan karenanya saya mengemasnya dalam sebuah novel singkat yang bercerita tentang setiap detail perjalanan bersama sahabat saya di ajang ini.

Continue reading

The Witness of Life

Seorang pria paruh baya dalam gambar itu tampak mengarahkan senapan pada warga yang mencoba mencuri  makanan di tengah reruntuhan puing-puing bangunan yang telah hancur. “Tension rise with death toll” sebuah tulisan  yang menjadi headline title terpangpang jelas dalam Koran The Jakarta Post yang mendarat sempurna di depan rumahku pagi itu. Sang pencuri yang entah dapat dikategorikan sebagai seorang pelaku kejahatan atau tidak dalam kondisi negara yang tengah dilanda bencana itu terlihat begitu pucat ditengah-tengah kerumunan warga yang putus asa. Bencana di Haiti yang disebut-sebut sebagai becana terburuk dalam sejarah United Nation ini memang menelan korban hingga nyaris menghabiskan 1/90 jiwa dari kesuluruhan jumlah penduduk Haiti. Meski hanya terjadi dalam beberapa detik namun gempa yang menimpa negara itu menyisakan trauma yang sangat mendalam bagi warganya. Mereka merupakan saksi hidup yang hingga kini harus berjuang untuk tetap meneruskan asa yang tersisa. Sebuah pengalaman pahit dimana keputusan akhir terletak dalam genggaman mereka saat ini. Stuck in pain or Continue Living with a new hope. Sadness.

Continue reading

They Call Her, Anita Borg…

19 Januari 2010

Jarum panjang yang menunjukkan detik itu terus berputar. Meski suasana dalam ruangan itu cukup ramai namun detakan jam di dinding putih itu masih sayup-sayup terdengar di telingaku. Sudah hampir 3 jam dan jari-jari tanganku hampir terasa kaku akibat lama menunggu. Untunglah sebuah modem putih yang tidak pernah luput dari tas putih yang kini telah lusuh itu selalu siap membawaku tenggelam dalam dunia maya. Untuk hal yang satu ini aku memang mengakui bahwa teknologi berperan besar dalam menghilangkan rasa jenuh.

Aku duduk di sudut ruangan besar yang hanya terpisahkan oleh sebuah sekat lemari kecil. Laptop hitam yang telah menemaniku selama hampir 4 tahun itu tampak menyala dan beberapa detik kemudian seperti biasa jari-jariku sudah sibuk menekan-nekan benda yang orang bilang mirip seperti tikus  terbalik itu ^^. Seperti sebuah ritual yang hampir setiap hari kujalani, YM – Facebook -Goggle –Mutiply adalah rute wajib yang selalu terlalui. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini aku banyak menghabiskan waktu untuk mencari-cari link beasiswa dari Goggle Search yang dibuka untuk periode 2010/2011. Ini sudah hampir halaman ke 20 dan belum ada situs yang menarik perhatianku hingga akhirnya aku terhenti pada sebuah halaman berjudul “The 2010 Goggle Anita Borg Memorial Scholarship…

Anita Borg??? I’ve heard that name before…Let me guess, 7 ,14  days ago,,,”Oh I know her! I’ve read about her in magazine 2 weeks ago..”

Continue reading

Kakakku dan Teori Relativitas Fisikanya

Masih teringat jelas dalam benakku saat itu, 8 tahun silam, seperti biasa aku pulang dengan mengenakan seragam putih biru dengan tas ransel berisi tumpukan buku-buku tebal, aku memang rajin membawa referensi buku-buku sebagai pelengkap buku pelajaran ke sekolah sejak kecil. Hanya rajin membawa tepatnya, namun sering lupa untuk membacanya 🙂 hehe. Sore itu seperti biasa Ibu mempersiapkan makan malam dan menunggu ayah dan kakak pulang. Karena kakak duduk di bangku SMA, tidak heran jika ia sering pulang lebih larut dariku.

Menjelang matahari terbenam, sesosok remaja dengan ransel hitam dan kacamata tebal tampak melangkah menuju depan rumahku. Ya, kakak pulang. Seperti biasa seragam putih abu-abunya selalu tampak lusuh. Kami tidak pernah menanyakan kenapa bajunya selalu kotor dengan tanah. Tentu saja sebab kami sekeluarga tahu bahwa kakak selalu menyempatkan waktu untuk bermain bola setiap pulang sekolah. Setiap sepatu baru yang mama belikan tidak pernah bertahan lebih dari 1 bulan akibat kegemaran bolanya itu. Dengan kacamata tebal yang menjadi ciri khasnya , ia melangkah masuk dan memberi salam seraya berkata “Ibu, alhamdulillah makalah kakak menang…” Kami  bergegas menghampiri. “Alhamdulillah ya ka, ayo duduk dulu dan cerita ke ayah dan ibu“. Aku hanya terheran-heran tidak paham. Rupanya kakak mengikuti lomba menulis karya ilmiah yang diselenggarakan di sekolahnya. Aku mengambil tumbukan kertas yang ia letakkan di meja. Sebuah judul berukuran 14 dengan Font Arial terlihat menghiasi tulisan itu “Teori Relativitas Dalam Al Quran”. Rupanya ini karya yang membawa kakak memenangkan lomba ilmiah itu.

Continue reading