A Story Behind the Scholarship

Sebelumnya saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang sudah memberi bantuan dan support. Sebenarnya saya sudah lama ingin menuliskan cerita ini untuk berbagi dan juga karena adanya permintaan dari teman-teman :D. Maaf karena baru bisa posting sekarang ya, guys. Oh ya, btw ga usah tegang untuk cari beasiswa, santai aj, just enjoy the process, dude.

Semoga cerita ini bisa membantu teman-teman yang juga ingin mencari ilmu sampai ke negeri Cina..heuheu…Let’s get started then!

Why am I looking for  a Scholarship?

Sama halnya dengan motivasi para scientist yang berlomba untuk mencari pembenaran dari sebuah teori, maka segala sesuatu tentu berawal dari motivasi yang tinggi dari dalam diri kita. Nah kenapa saya termotivasi untuk mencari beasiswa? Alasan pertama adalah karena melanjutkan sekolah adalah salah satu impian terbesar ayah dan saya. Dari dulu ayah ingin sekali anak-anak bisa mencapai sekolah yang tinggi karena menurut ayah di dunia ini ada banyak sekali ilmu yang masih harus kita gali. Tapi semua orang tahu bahwa untuk melanjutkan sekolah tentu diperlukan biaya yang tidak sedikit. Maka motivasi awal saya untuk mencari beasiswa berangkat dari keinginan saya untuk meringankan beban Ayah dan Ibu agar mereka tidak perlu membiayai saya kuliah.  They’ve been working so hard till I can get my bachelor degree, so it’s time to give them a break 😀.

Selain itu beasiswa juga bisa menjadi motivasi tersendiri bagi kita, kenapa? karena dengan beasiswa kita memiliki motivasi dan tanggung jawab lebih. Saat kita mendapat amanah sebagai penerima beasiswa,  kinerja kita akan dipantau sepenuhnya oleh instansi pemberi beasiswa.  Jika kita mengambil study by course misalnya , maka nilai akademik kita tidak boleh turun dalam jangka waktu yang telah mereka tentukan, dan begitu pula saat mengambil study by research maka kinerja penelitian kita harus benar-benar memuaskan. But that motivates you to keep working well! 😀 Nah, sekarang tinggal pilih  Anda lebih tertarik ke arah mana,  suka mengikuti yang full kuliah,  full penelitian atau bisa juga research by course (penelitian sambil ada kuliahnya juga). Mangga dipilih sesuai minat masing-masing, hehe 😀

We  should find it earlier!

Saya cukup menyesal karena banyak program beasiswa yang sudah tutup saat saya lulus di bulan Oktober. Oktober adalah bulan yang mendekati akhir tahun dan karenanya banyak program beasiswa untuk tahun itu yang sudah tidak lagi dibuka.   Dulu prinsip saya begini “Belum punya ijazah ini , nanti dulu lah nyarinya,  gimana bisa daftar beasiswa tanpa ijazah kan, hehe?”Begitu kira-kira :D. Padahal ibu saya sudah dari jauh-jauh hari mengingatkan untuk mencari beasiswa kepada anaknya yang malah lebih rajin nonton film dibandingkan browsing untuk mencari informasi beasiswa, hihihi.  Tapi sekarang saya menyadari bahwa alas an sebenarnya saat itu adalah karena saya cukup pusing dalam mengerjakan skripsi dan ada sedikit faktor malas (Ha2 it’s always fun to be honest :D,well but that’s so normal, Human beings are inherently lazy for some people like me ^^). Baru sadar setelah lulus dan mengalami sindrom vaccum. Siap-siap bagi yang  akan wisuda, there is always a postgraduate syndrome \(^^)/.  Maka dari itu bagi ade-ade kelas yang sekarang belum lulus jangan ditunda-tunda ya jika ingin mencari beasiswa. Lebih cepat lebih baik. Slogan ini bukan karena alas an mendukung partai politik tertentu tapi benar-benar murni agar kalian menyiapkan segala sesuatu secara dini. Good preparation is one key of success.  Hampir semua beasiswa rata-rata buka di pertengahan tahun dan sebelum saya lulus sudah banyak lowongan beasiswa yang ditutup. Termasuk salah satu beasiswa paling menggiurkan saat itu yakni Australian Development Scholarship yang menyediakan hampir 300 beasiswa untuk menempuh pendidikan S2 dan S3 pada universitas-universitas di Australia setiap tahunnya kepada Pemerintah Indonesia (Bagi yang mau mencari beasiswa tahun ini jangan sampai ketinggalan ADS 2010 ya! :D).  Dan bisa ditebak akhirnya kemalasan saya berbuah penyesalan di ujung :P. So lesson number one : Don’t be lazy to find any information related to scholarship, you should find it earlier before the deadlines strike your head :P! Nah, beberapa beasiswa yang dulu masih sempat buka adalah beasiswa dari DAAD, kedutaan Swiss, dan Erasmus Mundus.

Well take a note guys, ini salah satu faktor yang banyak menghambat proses studi yang cepat dan begitu pula kalau teman-teman ingin mencari kerja, you may be familiar with this Working experience at least bla bla bla  years!”, dan karena saya dulu hanya pekerja serabutan (alias freelancer) maka saya tidak memiliki working experience resmi. Hence, I can’t apply to DAAD yang memerlukan working experience minimal 2 tahun! Pengalaman kerja belum mencukupi tepatnya :D. Sama halnya dengan DAAD saya juga tidak sempat mendaftar di Swiss,why?karena saya belum sempat mengambil ujian persamaan bahasa Jerman di Goethe institute. Dan ini yang terakhir yang paling membuat saya menggigit jari :ERASMUS MUNDUS. Beberapa program di Erasmus mundus mensyaratkan nilai paper based toefl hingga 570  dan TOEFL tersebut harus berbasis TOEFL internasional yang diakui dunia (TOEFL internasional bisa dilakukan di kuningan Jakarta). Waktu itu saya belum mengambil TOEFL internasional dan karena keterbatasan waktu akhirnya mimpi mengikuti Erasmus Mundus pun memasuki daftar deretan beasiswa yang gagal saya ikuti karena tidak sempat mempersiapkan hehe. Saya cuma bisa garuk-garuk kepala memikirkan semua program beasiswa yang tersisa dan sempitnya waktu untuk menyiapkan segalanya. Ini adalah saran untuk teman-teman yang belum lulus  atau yang sudah lulus dan ingin meng-apply beasiswa: Lesson number 2  “Siapkan TOEFL Anda setinggi dan sedini mungkin, supaya roket untuk menyerang beasiswa ke negeri seberang sudah siap diluncurkan jika nanti diperlukan. LOL ”

Your Decision Determine Your Future

Benar kata orang bahwa proses pencapaian mimpi bukanlah hal yang mudah. Pengambilan keputusan memegang peranan yang sangat penting saat kita lulus dan akan menentukan langkah selanjutnya. Your decision that time really determine your future.  Salah satu dilema yang saya hadapi adalah saat akan menentukan pilihan apakah saya ingin bekerja atau melanjutkan sekolah terlebih dahulu. Maka prinsip saya saat itu adalah apapun langkah yang nanti saya pilih saya harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Jika akan bekerja maka jadilah seorang pekerja yang baik dan professional dan jika ingin sekolah maka usahakan mencari beasiswa untuk meringankan beban ayah dan ibu agar mereka tidak perlu memikirkan biaya kita kuliah. Mengatakan memang hal yang mudah, tapi dalam dunia nyata semua itu sulit dilakukan secara ideal.

Saya tidak memungkiri bahwa pilihan saya untuk mencari beasiswa agar dapat melanjutkan sekolah memang memiliki peluang kegagalan yang besar. Jika tidak diterima maka saya akan kehilangan waktu karena tidak memasukkan lamaran ke kantor-kantor untuk bekerja.  Oleh karenanya selama proses pencarian beasiswa, saya bekerja secara freelance dari kantor ke kantor, mengerjakan proyek-proyek yang ada , mengajar dari satu universitas ke universitas lain, dan apa saja yang bisa saya lakukan agar bisa tetap membantu orang tua dengan bekerja namun tidak terikat dengan suatu instansi tertentu. Intinya jika sudah mendaftar ke suatu instansi maka umumnya akan ada sebuah kontrak untuk bekerja dan kita tidak bisa seenaknya resign untuk tiba-tiba keluar karena alasan sekolah. So choose your decision.

Rasanya terkadang ingin mencuri-curi waktu untuk membuat surat lamaran dan memasukkan ke kotak pos agar bisa mendapatkan pekerjaan dan jaminan masa depan, tapi jika keputusan untuk sekolah sudah saya ambil maka saya harus mengurung niat untuk melamar kerja ke instansi-instansi besar, senang ataupun tidak. Sebenarnya ada banyak cara jika ingin mendapatkan beasiswa, pertama Anda bisa bekerja terlebih dahulu dan bisa saja suatu saat instansi tempat Anda bekerja menyekolahkan Anda dengan memberi beasiswa. Cara kedua adalah dengan bekerja selama 2 tahun atau lebih (misalnya Anda sudah kontrak untuk bekerja selama 2 tahun disuatu perusahaan tertentu) sehingga Anda memiliki working experience cukup dan melamar ke instansi beasiswa. Rata-rata lembaga penerima beasiswa mensyaratkan untuk memiliki working experience selama 2 tahun (Contohnya DAAD). Cara yang ketiga adalah Anda tidak terkait dengan instansi apapun, tidak memiliki working experience dan mencari beasiswa sebagai seorang fresh graduate seperti yang saya lakukan. Tapi resikonya ya seperti yang tadi saya jelaskan Anda tidak boleh sedang terkait kontrak untuk bekerja pada perusahaan manapun. Risky right? But life without risk wont make you learn to struggle :D. Maka setiap kali saya merasa down akibat kekosongan karena bekerja secara freelance tanpa jaminan yang jelas, dan belum mendapatkan beasiswa karena waktu persiapan yang begitu sempit, maka ayah selalu mengingatkan saya “Kalau ade punya mimpi, kejarlah, jangan pernah putus asa”. So, don’t give up to reach your dream, it’s just a matter of time :D”

Keep Going

Lepasnya kesempatan untuk mengikuti Beasiswa Swiss dan Erasmus mundus akibat waktu deadline yang begitu dekat tidak membuat saya berhenti berjuang. Karena tidak kehabisan akal layaknya para pendaki dunia yang penasaran untuk menaklukkan Everest :D,  saya memutar otak untuk mencari alternatif lain. So I decided to send several letter to the professor. Saya mengirimkan 12 surat lamaran ke Profesor-profesor di Jerman dan menjelaskan interest saya untuk mengikuti penelitian mereka (saya tertarik dengan computer graphic saat itu karena saya memang sangat tertarik dengan hal-hal ber-gendre grafis dan design). Mereka rata-rata sangat welcome dengan mahasiswa Indonesia tapi ternyata kita harus mengambil program Master terlebih dahulu untuk bisa mengikuti penelitian mereka. Ada juga professor yang menyarankan untuk mengambil Master di universitas mereka seperti Kaiserslautern dan Saarland University (Oh ya Saarland punya program master yang tutup pada bulan April 2010 ;D silakan bagi yang berminat).  But there is one problem : It is not a scholarship program yet, jadi kita harus cari sendiri beasiswanya :D. Haha, nah ini dia alternatif saya yang terakhir, Phd Scholarship dari UNSW.

Saya dulu sempat ragu untuk mengikuti program ini, pertama karena ini adalah Phd Scholarship (Beasiswa untuk S3) dan yang kedua karena ini adalah perlombaan beasiswa dengan syarat yang cukup kompleks dibandingkan beasiswa lain. Intinya para Profesor di UNSW mempublikasikan abstract yang harus dipahami dan para applicant diminta untuk berlomba membuat proposal penelitian dari abstract tersebut. Kaya buat proposal skripsi ya? Yap, seperti itu kira-kira bedanya kalau ini ditambah dengan ide-ide penelitian yang original dari kita. Nah insyaallah dipostingan berikutnya saya akan berbagi mengenai perjuangan kecil-kecilan saya dalam membuat proposal dari abstract yang mereka tawarkan. Segini dulu, semoga sekarang “SOUL” untuk berjuangnya udah didapatkan ya, itu yang paling penting soalnya :D!

Ok,  Sekian dulu semoga bermanfaat ;D. So like Ella Fitzgerald has said:

Just don’t give up trying to do what you really want to do. Where there is love and inspiration, I don’t think you can go wrong. “

Semangat!

Salam,

Medria Hardhienata


Advertisements
    • woroindryani
    • February 8th, 2010

    heuuuu keren kak med kapan yah bisa ikut dapet beasiswa juga hehe ^_^ sukse ya kak 😀

    • bisa insyaallah woro, semangat, jangan lupa minta doa ortu biar makin lancar…:D sukses juga ya

  1. wah, makasih pengalamannya med ^^ ada gambaran sekarang knp orang lain bisa sekolah ke luar. hehe…

    • Iya Ad, Jadi inget tulisan di multiply Saad tentang Univ Twente :D, tertarik sekolah ke luar ga ad?banyak banget bidang study yang berhubungan dengan graphic design disana

      • tertarik lah med. insyaAllah saya pengen fokus ke simulasi kalo ambil s2. seru kayaknya. ntar dirancang abis selesai s1… 😀

      • @Saad:Great! :D, kalau simulasi insyaallah nanti bisa share n join ad, penelitian dari supervisor Medri disana banyak nyoba simulasi di secondlife.com tuh, 3D graphic is totally awesome Ad, you will find a lot of people like you 😀

      • (woot) *kayak di plurk* insyaAllah 😀

    • bruder van tussy
    • February 9th, 2010

    seven thumbs up for Medri!
    wish your story will make me awake from my long sleeping
    🙂
    keep rockin’!

    • Thanks bruder, wish you good luck too 😀

    • Yan
    • February 11th, 2010

    😀
    mantap Matt~!!
    beneran jadi rajin nulis nih, hehehe…

    thanks for sharing the story ❤
    bikin jadi tambah semangat nih!!!!!

    • Ryan, yep! yanti kan orang yang paling tahu kalo aku paling males nulis hehehe, iya yan sejak pertengahan desember I decided to write again 😀 I should have a brand new spirit…

      Salam buat si dede kecil ya…duuuuh jadi pengen ke bandung liat anaknya kak Rini :9

  2. wah wah makasih sharingnya
    mau tanya ya, kan kita harus sejak dini nih nyari beasiswa. nah sy bingung, sy masih tingkat 2, apakah nyari beasiswa dari sekarang?tapi kan ga bisa juga soalnya persyaratannya lulus s1.
    hehe bingung nih

    makasih ya

    • Biasanya seperti itu Nadita, memang sudah mulai cari2 info beasiswa sebelum lulus, jadi nti kita bisa mempersiapkan apa persyaratannya dan sudah siap saat lulus.
      Beberapa persyaratan dasar beasiswa umumnya seputar bahasa inggris dan nilai IPK saat kuliah.
      Jadi bagusnya sebelum kita lulus, kita sudah bisa mulai2 belajar TOEFL dan IELTS
      sekaligus mengejar IPK agar memenuhi persyaratan minimal beasiswa. Nah, hopefully pas udah lulus nti lebih siap 😀
      Banyak kejadian setelah kita lulus, deadline aplikasinya terlalu dekat sehingga kita tidak sempat mengikuti tes TOEFL/IELTS dan akhirnya kesempatan mendaftar terlewat :D. So the earlier the better. Semangat ya 😀

      Cheers,
      Medri

    • adi
    • September 23rd, 2011

    Hi,medriamatt… 🙂
    Saya adi,bisa dibilang saya orang yg hobi membaca blog dan mungkin sudah lumayan banyak tulisan atw blog tentang perjuangan anak bangsa yg mencari beasiswa keluar negri yg sudah saya baca…dan setiap tulisan tersebut memiliki soul tersendiri, membuat pembacanya menjadi lebih semangat, optimis, dan lebih berjuang dengan keras untuk mendapatkan beasiswa tersebut, seperti tulisan yg ad di blog medriamaat ini.Great job…
    Mungkin saya juga memiliki passion yg sama seperti medriamatt, mencari beasiswa di negara dimna bapak teknologi kita Prof.Dr. -ing BJ. Habibie menyelesaikan pendidikan tinggi nya hingga tingkat profesor, hope we will have a chance like him. take all of risk…and let’s make our dream come true. amien…

    best regard
    adi.permadi99@gmail.com

    • Hi Adi, salam kenal :D,
      Terimakasih sudah mampir di blog ini, maaf juga karena dalam beberapa pekan ini saya belum sempat mampir ke blog krn sedang dikejar deadline dr kampus.
      Amien, wish you all the best for your future study, 😀 semoga mendapat tempat sekolah yang sesuai dengan passion dan bisa mengharumkan nama bangsa seperti Prof.Dr. -ing BJ. Habibie.
      Ditunggu sharing ceritanya :D!

      Cheers,
      Medria

  3. Waah kakak ilkom juga? salam kenal dari ilkomers 48 🙂 saya interest juga pengen ngelanjutin di “computer graphic”. Jadi makin semangat nih :). Kebetulan saya bingung mau ke jepang ato jerman, kira2 yang bagus dan lebih potensial ke mana ya??

    • Salam kenal Whina. Iya saya angkatan Ilkom 42. 🙂
      Mohon maaf saya kurang tahu klo untuk ke Jepang, tapi saya dulu pernah coba melamar S2 ke Universitas Saarbrücken Graduate School of Computer Science untuk bidang Computer Graphic.
      Kata profesornya untuk informasi lebih lanjut bisa lihat ke webpage gradschool.cs.uni-saarland.de untuk details mengenai prosedur aplikasinya.
      Good luck ya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: