Wordcamp 2010 : The Journey (Chapter-1)

Lost into the next station

January 30th 2010

8.10 PM

Tempat itu lebih mirip ruang penyekapan narapidana yang akan dipindahkan dari Buchenwald ke  Weimar dibanding layaknya sebuah gerbong kereta KRL umum. Tinggal ditambahkan  gas beracun dan tempat itu akan mirip seperti peristiwa Holocaust di jaman Hitler. Sesak, penuh, dan gelap. Aku mencoba berdiri mencari celah-celah untuk memastikan bahwa supply oksigen yang kuterima cukup. Sesekali sinar masuk dari balik jeruji ventilasi kereta dan aku bisa merasakan bahwa sama halnya denganku, orang-orang dikereta itu ingin secepatnya menemui stasiun tujuan mereka dan turun.  Ya, aku bersama dengan kedua sahabatku menaiki kereta ekonomi dari Stasiun Pondok Cina dan terjebak dalam kereta tanpa lampu! Miris sekali rasanya berada di tempat itu mengingat negara ini adalah  negara yang memiliki jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa dengan pendapatan perkapita hingga akhir tahun 2009 mencapai 2.500 dan 2.600 dollar AS. Sedikit kalkulasi dan perhitungan abstrak, dengan asumsi bahwa kurs dolar mencapai 10.000 rupiah saja 2.600 dolar berarti bahwa pendapatan penduduk Indonesia mencapao 26 juta pertahun. Jika dihitung dengan pensil dan kertas setiap bulan penghasilan rata-rata penduduk Indonesia sekitar 2,2 juta. Rendahnya kemampuan ekonomi sebagian besar warga Indonesia menandakan bahwa banyak sekali rakyat negri ini yang akan menggunakan jasa kereta api ekonomi dan kondisi gerbong kereta tanpa lampu seperti ini sungguh memprihatinkan. Tapi ya sudahlah, hanya dengan mengingat semua kisah yang terlewati sebelum menaiki kereta itu saja aku sudah bisa tersenyum-senyum hingga perjalanku mencapai stasiun Bogor. Unforgettable moments I must say..


6 AM

“Keretanya berangkat jam berapa De?” suara ayah tiba-tiba terdengar saat aku tengah duduk di kursi depan mobil dan melamun. “Kata Pandu sih suruh kumpul jam 6 di stasiun pah ..”jawabku. “Wah kita telat donk de, macet banget, mana becaknya ngelawan arus gini” aku bisa merasakan kepanikan ayah yang sedang menyupir di sebelahku. Ayahku memang orang yang sangat tepat waktu.  Ia bahkan  sudah siap di bandara 4 jam sebelum keberangkatan pesawat jika akan pergi dinas. Kondisi terlambat 5 menit saja sudah membuatnya tidak nyaman. “Bentar ya Pah ade telepon Pandu dulu”. Akupun menghubungi sahabat SMA-ku itu. “Ndu, loe dimana?sori bro gw telat macet nih” aku mencoba mengawali percakapan di telepon genggamku. Dan dengan suara yang sudah sangat kukenal sejak SMA ia menjawab, “Baru mau berangkat nih Med, loe sarapan dulu juga gapapa…”. Aku mengerutkan dahi dan menahan sedikit tawa mendengar jawabanya. Hampir saja ayahku turun dari mobil dan berurusan dengan tukang becak yang melanggar tata tertib itu demi mengejar ketepatan waktu jam 6! Untunglah kereta di Indonesia bisa berangkat kapan saja. Salah satu sahabatku yang juga akan berangkat bersama kami tidak lama setelah itu mengirimkan sebuah pesan SMS “udah pada kumpul, Med?”. Namanya Muhammad Saad. Dengan gayanya yang khas seperti slogan rokok Cool, Calm, Confident aku dan dan Ibonk (salah satu sahabat terbaikku saat kuliah dulu) setuju bahwa ia adalah seorang jenius design dan hand-art master yang  sangat low profile. “You will never know that he’s a genius until you know him well!”.Begitu kami menyimpulkan. 😀

Aku sudah sampai di stasiun pukul 6 lewat 10 menit. Karena kedua orang sahabatku belum datang aku menunggu di depan loket penjualan karcis kereta tepat di samping seorang ibu dan pria setengah baya yang sedang menata Koran untuk dijual pagi itu. Lima belas menit kemudian Saad mengirimkan pesan, “Med, dah nunggu di peron 2”. “Heeee?”pikirku, bagaimana aku bisa tidak menyadari kedatangan temanku padahal aku sudah menunggu di depan tiket penjualan karcis layaknya seorang satpam yang membukakan pintu Bank. Aku mengaruk-garuk kepala karena heran, “jurik kali ya bisa masuk tanpa lewat pintu,hehe…” pikirku J. Terakhir baru kuketahui bahwa rumahnya terletak sangat dekat dengan stasiun, hanya dengan menembus palang ia bisa memasuki wilayah stasiun tanpa melewati pintu utama. So he is definitely not a ghost, LOL.

Sekitar 30 menit kemudian Pandu datang, dan sama sepertiku ia juga heran karena kami sudah berada di peron dan bukan di tempat kesepakatan awal untuk berkumpul. Kereta yang kami tunggu pun datang beberapa menit setelahnya.  Inilah kejadian paling lucu yang membuatku masih terpingkal-pingkal sampai sekarang jika mengingatnya. Kami bertiga pergi dengan semangat khas patriot yang ingin menggali ilmu dari para leluhur coding. Tapi terlepas dari semangat itu kami benar-benar buta tentang jalan! Bahkan Pandu yang menjadi panitia event itupun sempat ragu untuk  memastikan stasiun mana untuk turun. Untunglah kami bertemu sahabat SMA, Heninggar Septiani, anak Ilmu Komputer UI yang ikut dalam kereta itu. “ Turun di Pocin kan Ning kalau mau ke Gundar?”Tanya Pandu. “Iya Ndu, nanti tinggal jalan ke kanan terus ke kiri” jawab Hening. Pandu pun memberi instruksi ke Saad yang berdiri tepat di sebelah kirinya, “Ad, entar loe keluar lewat kiri, gw ma Medri lewat pintu kanan ya”. Ia mengangguk. Karena aku dan Pandu memang lebih dekat ke pintu kanan untuk keluar dari kereta maka kami pun bersiap-siap di depan pintu keluar sebelum kereta mencapai stasiun Pondok Cina. “Misi Pak, misi kami mau turun” aku dan Pandu sibuk menyelinap dan terpaksa sedikit mendorong penumpang lain agar bisa turun. Budaya seperti ini sudah lekat di Negara ini. Kalau tidak cepat dan tanggap Anda tidak bisa turun di stasiun tujuan. Sebelum turun aku memastikan ke Pandu, “Ndu, Saad mana?”tanyaku khawatir. Pandu menjawab dengan tenang, “Dia turun lewat pintu kiri, Med”. Aku diam saja karena yakin keputusan Pandu saat itu benar. Dan kami pun turun. Aneh pikirku. Kami turun tapi Saad belum juga tampak di stasiun itu. Seperti kaset yang tersangkut di radio  dan memutar nada yang berulang aku menanyakan pertanyaan yang sama ke vokalis band SMAku itu, “Nduuu, serius si Saad mana?”. “Ntar juga turun, udah gw suruh tadi lewat pintu kiri. Kali ini aku tidak percaya dengan omongannya. Kereta itu jalan dan aku menatap Pandu. Kami berdua langsung menyadari kalau Saad tidak turun! He’s lost into the next station!

Seperti yang bisa ditebak pertengkaran kami pun berawal dengan debat argumen yang menghabiskan waktu.  “Gmana sih loe bukannya ngajak si Saad bareng tadi turunnya.” debatku. “Mana gw tau dia ga tau harus turun di Pocin, gw kira dia tau, loe juga bukannya ngajak ngobrol.” Pandu berusaha membela argumentasinya. “mana gw bisa ngobrol kan gw berdirinya jauh dari Saad, loe kan yang disebelahnya” aku tidak mau kalah. “Saad kan temen loe, gw kan baru kenal jadi masih malu ngajak ngobrol”. Baiklah aku menyerah. Aku pun langsung mengambil inisiatif untuk menghubungi si jenius design yang tersasar itu. “Ad, dimana?”. Belum sempat terjawab sebuah sms masuk ke telefon genggamku “Kelewat tadi sekarang di UI,Langsung aj ke gundar ya.” Aku dan Pandu  tertawa terpingkal-pingkal membaca sms itu. Kocak! dan seperti biasa masih tetap “Cool” disaat apapun! :D. Jangan sangka perjuangan kami menemukan Gunadarma berakhir, aku dan pandu masih tersesat setelah turun, kami bahkan menyusuri sebuah kali kecil disebelah kampus ini. Dengan modal khas bonek kami tidak segan bertanya ke pedagang yang lewat di jalan itu dan akhirnya sebuah gedung tinggi dengan papan Universitas Gunadarma terlihat jelas. Yak, Kami sampai. 😀

***

Next Chapter Chapter 2 “Come in, we’ll get you breakfast and coffee”

Advertisements
  1. memang mantapp perjalanan ke wordcamp, perjalanan pusing, pas event pusing, over all, it was a blast..

    • Iya ndu..makasih ya dah ngasih tau, dah jadi panitia yang mantep banget, ini masih ada kelanjutannya ndu, dah gw tulis tinggal di post, insyaallah perhari 2 chapter targetnya hihihi, it was unforgettable :D!

  2. hehehe… kurang cepat dan tanggap. sorry ngerepotin. wkwkwk… :”>

    • wkwkwkk…santai Ad 😀 disitu justru serunya…masih suka ketawa sampe sekarang kalau inget peristiwa itu hehe

    • fahmi.yasha
    • April 9th, 2010

    jiah si saad..bukannya dulu waktu PKL sering lewat gunadarma…ckckckckck..haha..ketawa juga..hohohoho

    • hi2 kocak ini mi :9, ketinggalan satu stasiun dia…ho2, untung bisa balik lagi pake angkot …v^^

      • nanya dulu ke satpam sana. terus nyari angkot deh. alhamdulillah, nyampe.hehe 🙂

    • sorry uy, kita kan taunya gundar yang deket UI. lu jg pasti nyasar, coz mindsetnya udh ke gundar UI kan,hehehe…:P

      • @Ghotsy ghost : wkwkwk ngeles ah ngeles 😀 hi2 *peace*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: