The Witness of Life

Seorang pria paruh baya dalam gambar itu tampak mengarahkan senapan pada warga yang mencoba mencuri  makanan di tengah reruntuhan puing-puing bangunan yang telah hancur. “Tension rise with death toll” sebuah tulisan  yang menjadi headline title terpangpang jelas dalam Koran The Jakarta Post yang mendarat sempurna di depan rumahku pagi itu. Sang pencuri yang entah dapat dikategorikan sebagai seorang pelaku kejahatan atau tidak dalam kondisi negara yang tengah dilanda bencana itu terlihat begitu pucat ditengah-tengah kerumunan warga yang putus asa. Bencana di Haiti yang disebut-sebut sebagai becana terburuk dalam sejarah United Nation ini memang menelan korban hingga nyaris menghabiskan 1/90 jiwa dari kesuluruhan jumlah penduduk Haiti. Meski hanya terjadi dalam beberapa detik namun gempa yang menimpa negara itu menyisakan trauma yang sangat mendalam bagi warganya. Mereka merupakan saksi hidup yang hingga kini harus berjuang untuk tetap meneruskan asa yang tersisa. Sebuah pengalaman pahit dimana keputusan akhir terletak dalam genggaman mereka saat ini. Stuck in pain or Continue Living with a new hope. Sadness.

Aku membalikkan halaman depan Koran itu dan membaca sebuah judul baru “Posies founder gets intimate on tour”.  Seorang musisi, Ken Stringfellow, tampak menikmati  alunan harmoni keyboard dalam tour yang dilaksanakan di kota pelajar, Yogyakarta. “On Thursday night Yogyakarta was rocked by storms, with the full complement of thunder, lighting and rain. But the heaven’s performance couldn’t drown out the music from Ken Stringfellow.” Sebuah konser musik yang melahirkan kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang yang menikmatinya. Happiness.

Halaman terakhir dalam Koran itu dihiasi oleh gambar seorang atlet NBA, Jose Calderon, yang tengah melayangkan bola ke arah ring dalam  pertandingan akbar yang diselenggarakan di Madison Square Garden New York Jumat lalu. A perfect layout.  Raptors memenangkan pertandingan itu dengan hasil akhir 112-104 melalui sebuah perjuangan panjang. Struggle.

Tiga kondisi yang terjadi dalam waktu yang bersamaan di dunia ini sekaligus menjadi blueprint yang lekat dalam benakku saat membaca koran ibukota itu.  Sadness, Happiness and Struggle.  Benar kata orang bahwa hidup adalah roda kehidupan. Klise. Namun Aku yakin itu benar. Kadang manusia sedih, senang, dan harus berjuang. Kata “berjuang” memiliki makna tersendiri bagiku. Aku jadi teringat masa SMP yang kujalani. Aku adalah salah satu penggemar utama buku-buku psikologi. Dulu aku berfikir buku-buku itu adalah salah satu pacuan untuk menjaga motivasiku untuk berjuang dalam hidup. Baru kusadari kini bahwa aku hampir tidak pernah membaca buku-buku itu hingga akhir. Prestasiku yang paling membanggakan dalam membaca buku psikologi adalah membaca 4 bab awal dan setelahnya buku itu menjadi karya museum yang abadi di lemari kamarku. =) Hehe. Lantas apa yang kerap membuatku terbangun di saat aku menjalani masa-masa sulit dalam hidup?

Sebelum pertanyaan itu terjawab aku ingin berbagi tentang kisah yang selalu ayah ceritakan. Ayahku berasal dari keluarga petani sederhana di Temanggung. Kota yang kini menjadi terkenal hingga seluruh penjuru dunia sebagai satu dari sekian tempat persembunyian teroris paling wahid di Indonesia =). Namun dulu jarang orang yang tahu tentang kota ini. Rumah mereka terletak di sebuah desa kecil di atas gunung. Sederhana, seadanya, namun desa ini adalah tempat yang paling ingin kukunjungi setiap liburan sekolah. Meski aku harus bersusah payah menuruni gunung untuk mencari sinyal radio jika aku menginap di sana, namun suasana desa adalah tempat yang sangat melegakan pikiranku. Damai dan tenang.

Orangtua ayahku adalah guru sekolah dasar di desa itu. Meskipun kondisi ekonomi mereka pas-pasan, kakek nenekku adalah orang yang pantang menyerah. Dengan uang hasil jernih payahnya  mereka bersikeras untuk menyekolahkan ayah ke kota agar ayahku bisa merasakan kehidupan yang lebih baik. Ayahku dititipkan di rumah pamannya di Semarang sejak SMA. Dengan pengajaran khas militer, ayahku biasa terbangun di pagi-pagi buta membersihkan rumah pamannya dan berangkat pagi-pagi ke sekolah sebelum fajar. Setelah menamatkan pendidikan SMA ayah diterima di Universitas Gadjah Mada dan mengambil jurusan Matematik. Aku masih ingat cerita betapa bangganya kakek buyutku saat mengetahui ayah bisa memasuki perguruan tinggi. Bahkan karena begitu senang, ayah bercerita bahwa kakek buyutku mengajaknya mengelilingi kampus berlambang kumpulan surya itu dengan sepeda motor persis seperti arak-arakan pendukung Brazil saat Tim Samba itu memenangkan piala dunia setelah berhasil menahan Jerman di babak final =P.  Di kampus inilah kelak ayah bertemu dengan Ibu.

Tidak berbeda dengan ayah, Ibuku juga berasal dari keluarga sederhana. Nenekku adalah seseorang pedagang baju yang berkeliling menawarkan dagangannya dari pasar ke pasar. Miris rasanya mendengar cerita ibu tentang sulitnya mendapatkan makanan saat ia kecil. Meski berasal dari keluarga yang juga mengalami kesulitan dalam ekonomi, tapi nenekku tidak pernah gentar dalam menyekolahkan ke-7 anaknya.  Satu anak membantu nenek berbelanja di pasar dan keenam anak lainnya semuanya disekolahkan ke perguruan tinggi. Bangga sekali rasanya jika mengingat perjuangan nenek dan kakekku dulu.

Setelah menikah dengan ibu, ayah melanjutkan  sekolahnya di ITB.  Mungkin karena doa nenek dan kakekku, dengan suatu keajaiban dan hasil kerja kerasnya ayahku lolos dalam seleksi penerimaan pegawai di salah satu instansi  pemerintah yang bergerak dalam bidang antariksa. Kata ayah,  ia dulu jauh dari predikat murid yang pintar, bahkan ayah sering kali bercanda karena kegemarannya dalam bermain bola, hanya nilai agama dan pendidikan kewarganegaraan yang tidak terhias dengan warna merah di raportnya. Hehe. “Ayah cuma beruntung..” begitu ia menimpali. Karena instansi tempat ayah bekerja membutuhkan seorang engineer dengan kemampuan merakit roket,  maka pemerintah kemudian menyekolahkan ayah bersama teman-temannya ke salah satu negara di Eropa. Untuk kesekian kalinya ayah mengatakan bahwa ini adalah sebuah keajaiban. Pergi ke luar Indonesia tidak pernah terbayangkan untuk anak desa seperti ayah timpanya. Dan sampai sekarang ayah selalu berkata padaku ini semua berkat doa kakek dan nenekku. Aku bisa melihat dari raut wajah ayah bahwa ia ingin menyampaikan sebuah pesan padaku. Tidak harus selalu menjadi murid terbaik di kelas untuk sukses, tapi menjadi anak yang sholeh dan taat pada orang tua adalah salah satu cara agar doa orang tua kita dipermudah oleh Tuhan. Aku hanya tersenyum-senyum kecil karena layaknya anak-anak lain seusiaku dulu akupun terkadang masih sering merepotkan ayah dan ibuku =). Setiap ingat perjuangan mereka rasanya berdosa sekali jika aku tidak sungguh-sungguh dalam belajar dan menjalani hidup.

Sebelum sempat menyelesaikan studinya di Bandung, ayah dikirim ke negeri dimana dulu negara itu masih terpisahkan oleh tumpukan batu bata kokoh. Ya, tembok yang menjadi simbol kekuasaan komunis dibawah pimpinan Walter Ulbricht pada tahun 1961 ini belum runtuh saat itu.   Dan disitulah perjuangan hidup ayah dan ibu yang sebenarnya untuk menghidupi anak-anaknya dimulai. (Aku berencana untuk membahas kisah ini di postingan blog berikutnya :D)

Sama seperti orang-orang yang mencoba bertahan hidup di Haiti, seorang musisi yang setiap hari berlatih untuk menyebarkan harmoni musik, seorang atlet yang berlari setiap hari agar dapat mempersembahkan yang terbaik dalam pertandingan yang diikutinya, semua orang memiliki harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka berjuang dan merubah kehidupan. Everybody deserve the best for their life. Kita semua adalah saksi  atas apa yang kita lihat, rasakan dan alami. Tak peduli seberapa banyak buku psikologi yang aku baca, aku sadar bahwa buku-buku itu tidak akan membantu sebelum aku mencoba memetik hikmah dari pengalaman dan berjuang untuk mengubah hidup.

Anak-anak korban bencana Haiti adalah saksi atas perjuangan orang tua mereka dalam mempertahankan hidup. Para penonton yang duduk dalam konser Ken Stringfellow saat itu adalah saksi atas hasil kerja keras musisi yang memainkan keyboard dalam Tour Asianya.  Supporter yang duduk dalam gedung olaharaga tersebut adalah saksi perjuangan atlet-atlet tim Raptor yang memenangkan pertandingan akbar di Madison Square.  Dan Aku sendiri adalah saksi bagi kakek nenek dan orangtuaku dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

We are the witnesses of what happen beyond our eyes. Become a witnesses of our life is more precious than any experience that any psychological books can tell. That’s why each time I think to give up, they are those who remind me not to stop struggling, and so I can say…

written by :

Medri “Matt” Hardhienata

A student of Computer Science IPB

Advertisements
  1. pantesan semangat terus… 😀

    • eh apa iya yak? *ga nyadar* hehe, alhamdulillah kalau begitu :D, kalau denger cerita orang tua suka terinspirasi soalnya ^^

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: